Makassar, Powernetizen.com Rabu 28 Januari 2026 – Klaim peningkatan pelayanan di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar kembali dipertanyakan. Seorang wartawan mengungkapkan pengalaman pahit terkait akses penumpang yang berulang kali menyulitkan, baik saat berangkat ke Jakarta maupun saat kembali ke Makassar, menandakan adanya masalah sistemik yang diabaikan pengelola bandara.

Wartawan tersebut mendarat di Makassar dari Jakarta pada dini hari sekitar pukul 01.35 WITA. Namun, alih-alih mendapat akses keluar yang cepat dan manusiawi, ia bersama keluarga dan penumpang lain justru dipaksa berjalan jauh, memutar, dan melelahkan hanya untuk mencapai area penjemputan.
“Ini bukan sekali. Saat berangkat ke Jakarta kondisinya sama persis. Aksesnya jauh, berliku, dan menguras tenaga. Hari ini saya kembali, kejadiannya terulang lagi. Ini jelas bukan insiden, tapi pola,” tegasnya.

Penumpang harus melewati sekitar enam lorong panjang tanpa akses lurus dan efisien. Kondisi ini sangat menyulitkan, terutama bagi lansia, anak-anak, ibu hamil, serta penumpang dengan bagasi berat. Ironisnya, tidak tampak solusi nyata dari pihak pengelola.
Lebih memprihatinkan, kendaraan listrik (buggy car) yang seharusnya menjadi fasilitas penolong justru tidak berfungsi maksimal. Kendaraan hanya terlihat mangkal dan tidak melayani penumpang, baik saat keberangkatan maupun kedatangan, termasuk pada jam-jam sepi dini hari.
“Kalau memang disediakan, seharusnya dioperasikan. Ini bukan pajangan. Penumpang kelelahan, tapi fasilitas diam,” sindirnya.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius terkait desain alur penumpang yang tidak ramah manusia dan buruknya manajemen pelayanan di bandara kebanggaan Indonesia Timur tersebut. Penataan akses yang panjang, berputar, dan tidak efisien dinilai mengabaikan kenyamanan serta keselamatan penumpang.
Hingga berita ini diterbitkan, pengelola Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar masih bungkam dan belum memberikan penjelasan resmi atas keluhan berulang ini. Padahal, persoalan tersebut dialami langsung oleh penumpang dalam dua momen berbeda: saat berangkat dan saat tiba.
Sebagai gerbang utama Indonesia Timur, Bandara Sultan Hasanuddin dituntut tidak hanya menampilkan wajah modern, tetapi juga menghadirkan pelayanan yang berpihak pada manusia, bukan justru memaksa penumpang melakukan “maraton” di dalam terminal.
(Tim PN)
