BeritaTerbaru

“Gelombang Panas di Benua Eropa, Oknum Aparat ikut Menjarah di Negara ini dan Polisi Badut di Tanah Air” Oleh Ketua DPD KNPI Provinsi Riau (dari balik Penjara, Tahanan Politik)

125
×

“Gelombang Panas di Benua Eropa, Oknum Aparat ikut Menjarah di Negara ini dan Polisi Badut di Tanah Air” Oleh Ketua DPD KNPI Provinsi Riau (dari balik Penjara, Tahanan Politik)

Sebarkan artikel ini

Pekanbaru – Alam semesta mulai menunjukkan kemarahan dan murkanya, melalui organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang telah merilis terjadinya Gelombang Panas yang dalam beberapa hari ini Melanda Benua Eropa. Peristiwa itu baru kali ini terjadi dalam sejarahnya. Hampir 1300 orang dilaporkan tewas akibat Gelombang Panas tersebut.

Melalui selembar kertas rilis yang disampaikan Tim Kuasa Hukum dan Juru Bicara Larshen Yunus,media ini menerima informasi terkait hampir 1300 orang warga di Benua Eropa tewas, mulai dari negara Polandia, Republik Ceko, Jerman dan Negara lainnya. Gelombang panas ekstrem tersebut membuat warga Eropa stres berat, panasnya mungkin saja melebihi udara di sel penjara Ketua DPD KNPI Provinsi Riau saat ini.

Informasinya beberapa hari lalu, Selasa(30/6/2026) pihak Kementerian Kesehatan Perancis juga melaporkan bahwa ada ribuan orang yang bermatian akibat suhu panas yang tembus hampir 44 Derajat Celsius.

Di satu sisi suatu negara diBenua Amerika sedang hancur-hancuran dilanda gempa. Negara tersebut bernama Venezuela. Sudahlah hancur karena gempa justru warga dan oknum aparat di Negara tersebut melakukan Penjara han yang sangat tidak terkendalikan.

Ditengah duka usai terjadinya Gempa Bumi yang begitu dahsyat, yang mengguncang Negara Venezuela, justru di waktu yang sama terjadi Gelombang Aksi Penjarahan dan Pencurian.
Pihak berwenang mencatat setidaknya ada 1.470 orang tewas dan puluhan orang lainnya dinyatakan hilang, kondisi paling memperihatinkan terlihat di wilayah pesisir negara bagian La Guaira yang bertetangga dengan ibu kota Caracas, wilayah tersebut kini menjadi hamparan puing bangunan.

Aksi kriminalitas Penjarahan dan pencurian itu memicu kemarahan warga yang selamat, pasalnya bantuan dari Pemerintah setempat di Negara tersebut dinilai sangat lambat dan minim. Para pelaku penjarahan dan pencurian itu telah kehilangan rasa kemanusiaannya demi menguras barang-barang di tengah kepanikan warga.

Peristiwa saling memangsa antara rakyat dengan aparat juga terjadi di Negeri Konoha. Aparat penegak hukum seperti Kepolisian Republik Indonesia jauh lebih biadab dan sudah kehilangan rasa kemanusiaannya. Para oknum anggota POLRI di Negeri Konoha ini cenderung bersikap dan bertingkah layaknya seperti Badut Jalanan yang haus akan mangsanya. Umumnya yang dimangsa itu bukan warga negara Asing, tetapi justru sesama Anak Bangsa saling memangsa, sekalipun yang dimangsa itu tidak memenuhi unsur Perbuatan Melawan Hukum.

Kebiadaban oknum-oknum Polisi Badut di Tanah air juga dirasakan oleh sekelompok Aktivis dan para pekerja di perusahaan swasta yang terpaksa harus mengikuti proses Hukum akibat kesewenang-wenangan para Penjarah yang berlindung dibalik seragam POLRI. Bahkan hampir 80℅ dari persentase penghuni Rumah Tahanan di Polsek,Polres dan Polda adalah korban dari kebiadaban oknum anggota POLRI yang terbukti melakukan pelanggaran SOP, penyalahgunaan wewenang dan budaya dalam meng-atensi suatu perkara sehingga timbullah yang namanya perlakuan Dzolim atas praktik Kriminalisasi Hukum.

Terimakasih, salam dari LARSHEN YUNUS. (*)