Terbaru

Eks Kepala BNN: Pilot Pengguna Narkoba Kehilangan Kemampuan Mengambil Keputusan Rasional

75
×

Eks Kepala BNN: Pilot Pengguna Narkoba Kehilangan Kemampuan Mengambil Keputusan Rasional

Sebarkan artikel ini

Jakarta : Terbongkarnya dugaan penyelundupan 70.144 butir ekstasi oleh seorang pilot maskapai asal Malaysia dinilai sebagai sinyal bahaya bagi dunia penerbangan.

Mantan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) periode 2023–2025, Komjen Pol Dr Marthinus Hukom, menegaskan bahwa kasus ini bukan sekadar pengungkapan penyelundupan narkotika, melainkan bukti bahwa sindikat narkoba terus mencari celah dengan menyusup ke profesi yang selama ini dipercaya menjaga keselamatan publik.

“Pertama saya mengucapkan selamat kepada Bea Cukai karena berhasil mendeteksi kasus ini. Tetapi di sisi lain, ini merupakan alarm besar bagi kita semua,” tegas Marthinus saat menjadi narasumber dalam dialog di TV One.

Menurut Marthinus, para bandar narkoba kini tidak lagi mengandalkan jalur penyelundupan konvensional. Mereka terus mengembangkan modus operandi dengan membangun hubungan dengan kru pesawat maupun pihak yang memiliki akses khusus di kawasan bandara.

“Kru pesawat memiliki kemudahan melewati sejumlah prosedur pemeriksaan. Celah seperti inilah yang dimanfaatkan sindikat untuk memasukkan narkoba ke Indonesia,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa ancaman terbesar dari kasus ini bukan hanya peredaran narkotika, tetapi juga keselamatan ratusan penumpang yang mempercayakan hidupnya kepada seorang pilot.

“Bagaimana mungkin orang yang bertanggung jawab membawa ratusan penumpang justru menggunakan narkoba? Narkoba merusak kemampuan berpikir, daya analisis, dan pengambilan keputusan. Ini alarm besar bagi keselamatan penerbangan,” katanya.

Marthinus mengungkapkan, berdasarkan catatan yang dimilikinya, sejak sekitar tahun 2017 sudah ada beberapa pilot yang ditemukan positif menggunakan narkoba melalui pemeriksaan urine secara acak.

Ia juga meluruskan anggapan yang selama ini berkembang bahwa sabu-sabu mampu meningkatkan fokus dan stamina.

“Jangan percaya narasi bahwa sabu membuat seseorang lebih fokus. Itu propaganda bandar narkoba agar barang dagangannya laku. Yang terjadi justru sebaliknya, narkoba menghancurkan kesadaran, merusak moral, dan membuat seseorang kehilangan kemampuan mengambil keputusan secara rasional,” tegasnya.

Menurut Marthinus, keterlibatan pilot maupun awak pesawat dalam jaringan narkotika umumnya berawal dari dua faktor, yakni sudah menjadi pengguna sehingga mudah dikendalikan, atau tergiur imbalan besar yang ditawarkan sindikat.

“Begitu seseorang masuk dalam lingkaran narkoba, ia akan lebih mudah diperalat. Sindikat selalu mencari orang yang memiliki akses untuk meloloskan barang haram mereka,” ujarnya.

Ia pun mengapresiasi kejelian petugas Bea Cukai Indonesia yang berhasil membaca gestur dan tekanan psikologis pelaku hingga penyelundupan itu berhasil digagalkan.

“Petugas intelijen tidak hanya melihat barang bawaan, tetapi juga membaca rasa takut, kegugupan, dan perilaku yang tidak wajar. Kemampuan itu yang menjadi kunci keberhasilan pengungkapan kasus ini,” jelasnya.

Lebih jauh, Marthinus mengingatkan bahwa celah keamanan yang dimanfaatkan untuk menyelundupkan narkoba berpotensi dimanfaatkan untuk ancaman lain yang jauh lebih serius.

“Hari ini mungkin narkoba. Besok bisa saja bahan peledak atau barang berbahaya lainnya. Kalau celah ini tidak ditutup, ancamannya bukan hanya kejahatan narkotika, tetapi juga keselamatan penerbangan dan keamanan nasional,” tandasnya.

Di akhir dialog, Marthinus menegaskan bahwa keberhasilan menangkap pelaku di bandara hanyalah langkah awal.

Yang jauh lebih penting, kata dia, adalah membongkar seluruh jaringan lintas negara yang berada di balik penyelundupan tersebut.

“Jangan berhenti pada pilot yang tertangkap. Kejar aktor intelektualnya, ungkap penerima barang di Indonesia, dan bongkar jaringan di Malaysia maupun Asia Tenggara. Memutus jaringan adalah kunci agar kasus seperti ini tidak terus berulang,” pungkasnya.