Halmahera – Kepala Suku Modole, Habel Tukang, menegaskan bahwa ritual adat yang disebut berkaitan dengan persiapan menyikapi rencana aksi Aliansi Gerakan Menagih Utang Real (Gempur) terhadap PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) bukan merupakan keputusan maupun sikap bersama empat suku di wilayah lingkar tambang.
Habel mengatakan, Suku Modole bersama tiga suku lainnya, yakni Suku Isam, Boeng, dan Towiliko, tidak mengetahui adanya ritual adat maupun agenda yang dikaitkan dengan lembaga adat empat suku.
“Kami empat suku ini tidak mengetahui persoalan soal ritual adat persiapan aksi protes terhadap NHM oleh Afrida Ngato dan teman-teman adat lainnya. Itu bukan keputusan bersama empat suku,” tegas Habel.
Ia juga mempertanyakan kapasitas Afrida Ngato untuk menyampaikan sikap atas nama lembaga empat suku. Menurutnya, tidak seharusnya nama empat suku digunakan untuk menghimpun dukungan masyarakat adat terhadap suatu aksi tanpa adanya kesepakatan bersama.
“Afrida Ngato itu tidak punya kapasitas di lembaga empat suku. Jadi jangan seolah-olah mengatasnamakan lembaga empat suku untuk memprovokasi masyarakat adat untuk demo NHM,” ujarnya.
Habel menegaskan, masyarakat perlu memahami bahwa gerakan tersebut tidak dapat disebut sebagai representasi sikap empat suku lingkar tambang karena tidak pernah dibahas dan diputuskan secara bersama.
Ia juga meminta PT NHM tidak perlu menganggap gerakan tersebut sebagai sikap resmi lembaga adat empat suku.
“Kami meminta kepada perusahaan tidak usah menanggapi terkait gerakan aksi protes yang dilakukan oleh Afrida dengan membawa-bawa adat empat suku. Sebab kami tidak mengetahui itu,” katanya.
Secara pribadi, Habel menyatakan dirinya sebagai Kepala Suku Modoe tidak mendukung aksi protes tersebut. Ia justru menyampaikan dukungan terhadap keberadaan dan operasional PT NHM, yang menurutnya selama ini telah memberikan berbagai bantuan kepada masyarakat di wilayah lingkar tambang.
“Selaku Kepala Suku, saya dengan tegas tidak mendukung soal aksi protes tersebut. Yang kami dukung adalah perusahaan NHM karena sudah banyak memberikan bantuan-bantuan sosial terhadap masyarakat lingkar tambang,” ungkapnya.
Habel juga menyampaikan apresiasi kepada PT NHM, khususnya Presiden Direktur PT NHM, Haji Robert, atas berbagai bentuk bantuan yang telah diberikan kepada masyarakat.
Menurutnya, kontribusi tersebut telah dirasakan masyarakat dan menjadi bagian dari hubungan antara perusahaan dengan masyarakat di wilayah lingkar tambang.
“Kami selaku tokoh adat tidak bisa membalas kebaikan perusahaan NHM, teristimewa kepada Pak Haji Robert selaku Presiden Direktur PT NHM atas bantuan-bantuan yang sudah diberikan kepada masyarakat lingkar tambang,” tuturnya.
Habel menegaskan komitmennya untuk mendukung operasional perusahaan sekaligus menjaga situasi di wilayah lingkar tambang tetap aman dan kondusif.
Ia pun mengimbau masyarakat adat agar tidak mudah terpengaruh oleh ajakan aksi yang menggunakan nama empat suku tanpa adanya keputusan bersama.
“Saya mengimbau kepada masyarakat adat untuk tidak ikut-ikutan aksi protes terhadap NHM,” pungkasnya.
