Terbaru

Sejumlah Temuan Awal Munculkan Dugaan Ketidaksesuaian Standar pada Dapur SPPG Berkah Nusantara

168
×

Sejumlah Temuan Awal Munculkan Dugaan Ketidaksesuaian Standar pada Dapur SPPG Berkah Nusantara

Sebarkan artikel ini

Tanah Datar, PowerNetizen.com – Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Berkah Nusantara yang berlokasi di Jorong Balai Janggo, Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat, diduga belum memenuhi sejumlah aspek standar kesehatan dan kebersihan sebagaimana diatur dalam petunjuk teknis layanan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Informasi ini sebelumnya dilansir oleh media Benteng Sumbar.

Temuan awal tersebut muncul dari hasil pengamatan lapangan awak media terhadap kondisi bangunan dan lingkungan sekitar dapur, yang hingga kini belum mulai beroperasi. Catatan di lapangan masih berupa dugaan dan masih menunggu klarifikasi resmi dari pihak berwenang serta pengelola dapur.

Bangunan Berdekatan dengan Fasilitas Penitipan Hewan

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa bangunan dapur berada berdampingan dengan toko pakan ternak dan penitipan hewan. Bahkan, ruangan yang kini digunakan sebagai dapur disebut-sebut merupakan bekas kandang kucing, sementara lantai atas bangunan masih difungsikan sebagai salon serta toko perlengkapan kucing.

Seorang narasumber yang memahami kemitraan dapur MBG (meminta identitasnya tidak dipublikasikan) mempertanyakan kelayakan area bekas kandang kucing tersebut untuk dijadikan dapur penyedia makanan siswa, mengingat standar higienitas harus benar-benar terjamin.

Namun hingga saat ini, pihak SPPG maupun pemerintah daerah belum memberikan pernyataan resmi tentang kelayakan bangunan tersebut.

Pertanyaan Mengenai Standar Luas dan Ruang Pengolahan

Narasumber juga memperkirakan luas dapur tidak lebih dari 150 meter persegi. Jika benar, luas tersebut dinilai tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan ruang pemrosesan, persiapan, pemasakan, hingga pemorsian yang seharusnya dipisahkan sesuai standar sanitasi.

Area pencucian alat makan (ompreng) disebut berukuran kecil sehingga menimbulkan pertanyaan apakah mampu menampung proses pencucian dalam jumlah besar. Selain itu, lantai bangunan dikabarkan belum dilapisi epoksi, padahal pelapisan tersebut lazim digunakan untuk mencegah kontaminasi serta mempermudah pembersihan.

Seluruh informasi ini masih berupa dugaan dan menunggu penjelasan resmi dari pengelola maupun instansi terkait.

Sistem Limbah dan Sumber Air Masih Dipertanyakan

Aspek lain yang turut dipertanyakan adalah sistem pembuangan limbah dapur, termasuk apakah bangunan telah dilengkapi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sesuai standar penyediaan makanan dalam skala besar.

Sumber air dapur juga menjadi sorotan. Disebutkan bahwa sumur yang digunakan berlokasi pada bangunan yang sama dengan salon kucing di lantai atas, sehingga menimbulkan pertanyaan terkait standar sanitasi.

Hingga kini pihak pengelola belum memberikan penjelasan teknis mengenai sistem limbah maupun sumber air tersebut.

Tanggapan Sementara Pemilik Bangunan

Ketika awak media mendatangi lokasi, hanya seorang pedagang pakan ternak berinisial DN yang ditemui. Ia mengaku sebagai pemilik bangunan yang digunakan untuk dapur MBG. DN menyampaikan bahwa operasional dapur dikelola oleh anaknya yang bekerja sama dengan pihak terkait di Jakarta.

DN mengklaim dapur telah memenuhi seluruh syarat, namun belum beroperasi lantaran masih menunggu pencairan dana ke rekening dapur MBG. Ia tidak memberikan penjelasan teknis terkait isu-isu yang dipertanyakan.

Di tengah masyarakat juga berkembang informasi bahwa pemilik dapur disebut bernama Resky, yang dikaitkan sebagai bagian dari SPPI dapur MBG. Informasi ini masih memerlukan verifikasi lebih lanjut.

Rilis : Tim