BeritaEkonomiFigurHukum & HAMPerspektifTerbaru

Sisi Gelap di Balik Tewasnya Polisi di Lokasi Judi Sabung Ayam, Ketua KNPI Riau: “Sudah Tidak Rahasia Umum Lagi, Bisa Saja itu Soal Setoran dan Bagi-Bagi Jatah”

253
×

Sisi Gelap di Balik Tewasnya Polisi di Lokasi Judi Sabung Ayam, Ketua KNPI Riau: “Sudah Tidak Rahasia Umum Lagi, Bisa Saja itu Soal Setoran dan Bagi-Bagi Jatah”

Sebarkan artikel ini

PEKANBARU– Kasus Tewasnya 3 (tiga) orang Polisi di Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung ternyata mengungkap berbagai tabir misteri.

Laporan dari Wartawan Way Kanan serta juga didukung oleh Tim Media Center DPD I dan DPD II KNPI setempat menjelaskan, bahwa pada saat itu, Senin (17/3/3025) sekitar pukul 16.50 WIB (sore hari) terdapat 3 (tiga) orang Polisi sedang melakukan Penggerebekan Lokasi Judi Sabung Ayam, yakni di Kampung Karang Manik, Kecamatan Negara Batin, Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung.

“Tak tanggung-tanggung, Ketiga anggota Polisi yang Tewas ditempat itu adalah 1. Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Negara Batin, Iptu Lusiyanto, Bintara Unit Binmas Polres Negara Batin, Bripka Petrus Apriyanto dan Bintara Sat Reskrim Polres Way Kanan, Bripda Muhammad Ghalib Surya Ganta” ungkap Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) tingkat I, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi Riau.

Menurut Pimpinan INDUK Organisasi Kepemudaan (OKP) terbesar dan tertua di Republik ini, bahwa Peristiwa Tewasnya Ketiga oknum Polisi itu harus digali mulai dari hulu ke hilir, mulai dari A sampai Z, sehingga masyarakat luas mengetahui sebab dan akibat terjadinya peristiwa berdarah seperti itu.

Karena menurut Ketua DPD I KNPI Provinsi Riau itu, kasus dengan pola serupa kerap terjadi hampir di semua Daerah dan penyebabnya adalah Proses Penegakan Hukum yang tidak Jujur alias “Main Mata”

“Lembaga Kepolisian ini sudah sangat besar, Negara memberikan Suplai Anggaran yang Luar Biasa Dahsyat!!! Gaji, Operasional ditambah lagi Anggaran Remunerasi yang cukup besar. Lalu rasa nikmat apa lagi yang tidak di Syukuri? Kami berharap, selain kita semua Larut dalam kesedihan dan keprihatinan atas meninggalnya ketiga Personel Polisi itu, secepatnya Tim Investigasi dari kedua Lembaga di Libatkan. Apakah dugaan ini benar adanya. Seandainya benar, maka terkonfirmasilah, bahwa lagi-lagi sistim Penegakan Hukum (Gakkum) sekaligus aspek Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas yang kewenanganan ada pada Lembaga Kepolisian (Polri) harus di Evaluasi kembali. Karena ketahuilah! cikal bakal dari Peristiwa berdarah seperti itu berasal dari oknum Aparat setempat, Wallahuallam Bissawab” ungkap Larshen Yunus.

Ketua DPD KNPI Provinsi Riau itu mengajak semua pihak untuk tetap menahan diri, khususnya bagi kedua Institusi Negara tersebut. Jangan pula ada yang Terprovokasi, sehingga justru dapat memperkeruh suasana. Ketua Larshen Yunus berkali-kali mengajak semua pihak untuk selalu Tabbayun. Introspeksi diri masing-masing. Apakah tontonan dan informasi seperti ini layak menjadi Konsumsi publik, terutama bagi kalangan masyarakat umum.

Sisi Gelap di Balik Tewasnya Polisi di Lokasi Judi Sabung Ayam, Ketua KNPI Riau: “Sudah Tidak Rahasia Umum Lagi, Bisa Saja itu Soal Setoran dan Bagi-Bagi Jatah”

Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) itu menjelaskan, bahwa dalam suatu peristiwa pasti ada Sebab dan Akibat.

Dari sisi Kepolisian, sudah pasti Lokasi Judi Sabung Ayam seperti itu diketahui, tetapi, kenapa sampai Kapolsek setempat yang turun tangan? Menurut Ketua KNPI Provinsi Riau itu, semuanya bermula pada Keseriusan dalam Menegakkan Aturan dan Peraturan Hukum. Jika Polisi serius menjalankan Tugas Pokok dan Fungsinya, maka Aktivitas seperti itu tidak akan berjalan, sehingga Aspek Pencegahan berjalan dengan baik dan benar.

“Untuk menanggapi permasalahan seperti ini, bukan hanya institusi TNI saja yang harus berbenah, namun yang paling penting adalah Kejujuran dari pihak Kepolisian (Polri). Momentum dalam melakukan Introspeksi, Evaluasi dan Pembenahan lainnya. Karena hampir disemua tempat, Aktivitas yang dilarang seperti itu justru dijadikan Ladang pemasukan bagi oknum-oknum tertentu, terutama bagi anggota Kepolisian. Zaman seperti saat ini tidak ada bedanya lagi Karakter seorang Perwira, Bintara dan Tamtama, semua berubah menjadi Rakus dan Serakah apabila diperhadapkan pada sumber-sumber Penghasilan tambahan. Mereka sudah tidak asing lagi dengan yang namanya Uang Haram, sekalipun itu diambil menggunakan Seragam Kebesaran dari institusi masing-masing, ALFATEHAH” ujar Ketua KNPI Riau Larshen Yunus.

Aktivis Tulen Lulusan dari Kampus Universitas Riau (UNRI) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta itu tegaskan lagi, bahwa sudah seharusnya Revolusi Mental diterapkan bagi masing-masing institusi, terutama Lembaga Kepolisian, sebagai cikal bakal dalam menegakkan semangat Kamtibmas.

“Kami Haqul Yakin, apabila Keserakahan itu perlahan mulai dikurangi dan sebaliknya justru semakin memperbesar rasa syukur serta nikmat sebagai Aparat Negara, maka Aktivitas yang melanggar hukum tidak akan muncul. Tapi, apabila Konsep Dramaturgi tetap juga diterapkan, berbagai Spekulasi dan Sandiwara tingkat tinggi, maka percayalah! Permasalahan dengan pola seperti itu tetap terus terjadi. Pembenahan diri harus terus dilakukan. Jangan hanya heboh bela membela institusi masing-masing. Tapi lakukan Revolusi Mental. Jangan merasa paling pintar, paling benar dan paling hebat. Justru malulah dengan dirimu itu. Sudah banyak di Subsidi Negara, masih berani bertingkah juga, MEMALUKAN!!!” Aparat atau Keparat kalian itu? tanya Larshen Yunus, seraya meneteskan air matanya.

Bertempat disalah satu bilangan di Jalan HR Soebrantas Panam, Kota Pekanbaru, hari ini Rabu (19/3/2025) Larshen Yunus yang juga diketahui menjabat sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gabungan Rakyat Prabowo Gibran (GARAPAN) katakan, bahwa tidak salah muncul isu Pembahasan soal Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang TNI, yang pada prinsipnya kembali memperkuat Konsep Dwi Fungsi Abri, peran TNI menjadi Luar Biasa seperti dahulu kala, yang Faktanya pernah juga kebablasan alias tergelincir akibat Sikap Otoriterisme. Setelah Reformasi, ternyata institusi Polri yang berbuat ulah, ketika Kewenangan Lembaganya diperkuat Negara.

“Seperti inilah jadinya, kalau segala sesuatu diberi tidak sesuai porsi!!! sisi Kebutuhan lebih dikesampingkan ketimbang Nafsu dan Keinginan. Membuat semua Institusi berpotensi menciptakan anggota dan atau personil yang Serakah dan Melawan Hukum. Walaupun secara prinsip, hampir semua pihak tidak ada yang Lurus kali, tidak ada yang Jujur-Jujur kali, namun setidaknya jangan sampai Kemaruk alias Serakah. Jangankan terima uang hasil Judi Sabung Ayam, orang buat konser dan panggung hiburan saja dimintai uang, setoran dimana-mana, sampai akhirnya mohon maaf!!! Praktek Prostitusi saja dijadikan sebagai Ladang uang tambahan. Lonte yang menjual diri, ikut dimintai uang walau hanya Lima Ribu Perak. Bahkan kami pernah melihat langsung secara kasat mata, langsung dihadapan kami terjadi peristiwa seorang Lonte memberikan uang Lima ribu perak sampai Sepuluh ribu rupiah lewat kaca mobil dinas yang dibuka setengah oleh beberapa oknum anggota TNI maupun Polri, benar-benar MENJIJIKKAN, oknum Aparat seperti itu jauh lebih Hina dari seorang Lonte yang menjual dirinya sendiri, benar-benar KEPARAT” tegas Ketua Umum Relawan Prabowo Gibran (GARAPAN), Larshen Yunus, seraya mengakhiri dan menutup pernyataan persnya. (*)